[Motivasi Diri] Sirup atau Gula Pasir ?
Friday, October 12, 2012
2
comments
Tak ada yang lebih
gusar melebihi makhluk Tuhan yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan
tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya
yang bernama sirup.
Masalahnya
sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia.
Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri
untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut
dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini
teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.
Begitu pun ketika
gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran
itu dengan kopi gula pasir. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia
alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti. Gula pasir
merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan.
Ia cuma disebut
manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada
yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu
besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirup. Dari
segi eksistensi, sirup tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih
terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirup." Bukan es manis.
Bahkan tidak jarang
sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirup
mangga, es sirup lemon, kokopandan," dan seterusnya. Gula pasir pun akhirnya bilang ke
sirup, "Andai aku seperti kamu. "Sosok gula pasir dan sirup merupakan
pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk orang banyak. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut
namanya sebagai yang paling berjasa. Persis
seperti yang disuarakan gula
pasir.
Kalau saja gula
pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau
saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirup dihargai, toh asalnya juga
dari gula pasir. Kalau saja gula pasir mengerti bahwa sirup terbaik justru yang
berasal dari gula pasir asli. Kalau saja para
penggiat kebaikan memahami
kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirup!
Dalam kehidupan
keseharian kita entah di kantor, di lingkungan rumah, maupun lingkungan profesi
sekalipun, seringkali kita mendapati ada orang-orang tertentu seperti gula pasir
yang banyak berjasa bagi orang lain tetapi tidak terliat, tidak mendapatkan
apresiasi yang layak, dihargai sumbangsihnya, maupun yang lebih ekstrim adalah
dianggap sosok pelangkap semata, bahkan dicibir dan diremehkan.
Tak mengapa! Gula pasir
tetaplah bagaikan sosok mutiara di antara lapiran pekat Lumpur atau buah
kelapa diantara rimbuan pohon di hutan belantara... yang
Tetap memancarkan cahaya
ketulusan hati.
Baca Selengkapnya ....











